Latest Post

Perkuatan Gelar Tempur TNI di Perbatasan dengan Malaysia

Written By smartaggregator on Sunday, December 9, 2012 | 11:58 AM

Ilustrasi
Beredarnya video penghinaan suporter Malaysia di Youtube saat pertandingan bola antara Indonesia-Singapura menunjukkan bahwa sulit menyebut kedua bangsa tetap serumpun, mirip-mirip mungkin. Tetapi semangat kebersamaannya tidak lagi serumpun. Menjelang pertandingan hidup mati Tim Garuda versus Harimau Malaya, Sabtu (1/12/2012), video teriakan dan nyanyian oleh suporter Negeri Jiran yang melecehkan dengan menyebut “Indonesia Itu Anjing” marak ditemukan. Walau pada akhirnya Indonesia masuk kotak dikalahkan Malaysia dengan skor 2-0. Bergembiralah Malaysia itu.

Dari data dan statistik situs http://www.youtube.com/watch?v=mibFjZ0Nci4 menunjukkan bahwa video ini di upload, Selasa (27/11) lalu dengan durasi 1 menit 41 detik. Pengunduhnya mengatasnamakan Indosportnews dengan pengunjung hingga saat tulisan ini dibuat berjumlah 343.351.

Hubungan kedua negara sebenarnya baik-baik secara diplomatik, hanya terdapat beberapa cacat kecil yang kemudian menyudutkan Indonesia dan menempatkan Indonesia sebagai negara yang lebih sering dilecehkan. Banyak budaya kita yang diakui oleh Malaysia, adanya penghinaan terhadap TKI (TKI on Sale) serta perlakuan sewenang-wenang, lepasnya Sipadan Ligitan. Semuanya hanya karena orang Malaysia merasa mereka lebih mampu, lebih kuat dan lebih tinggi dari Indonesia. Sirik, kira-kira istilah itu yang lebih tepat.

Dari pengalaman hubungan antar negara, sebuah negara akan disegani apabila dia mempunyai kekuatan militer yang memadai hingga negara lain tidak berani menyepelekannya. Sebagai contoh, Amerika Serikat bisa memosisikan dirinya seakan-akan sebagai polisi dunia karena mempunyai kekuatan penggempur yang sulit ditandingi negara manapun. Suriah, kini dalam konflik internalnya dibawah tekanan internasional tetap diperhitungkan AS dan sekutunya apabila akan diserbu, karena memiliki pertahanan udara yang terintegrasi dengan sistem yang dibuat oleh Rusia. Indonesia sekitar tahun 1961-1962 sangat ditakuti karena mempunyai kekuatan udara penggempur strategis (baca; Kisah kejayaan Tu-16 AURI, yang membuat Gentar Asia Tenggara dan Australia http://ramalanintelijen.net/?p=5329 ).

Nah, nampaknya para pemimpin di Indonesia mulai menyadari bahwa kita harus memiliki kekuatan gabungan yang memadai khususnya dikawasan Barat yang berbatasan dengan Malaysia. Dari Order of Battle Malaysia, diketahui negara itu juga menempatkan dua divisi pasukannya kearah Indonesia. Mereka terus bersiap, sebenarnya khawatir dan takut apabila kembali terjadi konflik dengan Indonesia sewaktu-waktu, mengingat sejarah Operasi Dwikora. Walau pada saat itu konflik bersenjata di kawasan hutan Kalimantan Utara sebenarnya lebih banyak terjadi antara pasukan Australia dengan Indonesia, karena Malaysia bersembunyi dibalik pakta FPDA (Five Power Defence Arrangements). Malaysia akan dilindungi oleh Inggris, Australia dan Selandia Baru apabila mendapat serangan.

Pengembangan Kekuatan Udara di Pekanbaru

Di kawasan Barat Indonesia, Pulau Sumatera terdapat Pangkalan Udara Pekanbaru yang merupakan pangkalan pesawat tempur TNI AU. Pangkalan yang dihuni oleh pesawat tempur Hawk 100/200 kini statusnya telah ditingkatkan oleh TNI AU menjadi Lanud kelas A. Lanud Pekanbaru kini oleh Kepala Staf TNI AU (Kasau) Marsekal Imam Sufaat telah diganti namanya menjadi Lanud Roesmin Nuryadin. Pak Rusmin Alm adalah penerbang tempur pertama AURI.

Kasau menegaskan , ”Saya ingin secara bertahap AURI menjadi the first class air force,” katanya saat peresmian pergantian nama Lapangan Udara (Lanud) Pekanbaru menjadi Roesmin Noerjadin, di Pekanbaru, Jumat (28/9). Untuk mencapai rencana tersebut, Kasau mengatakan, pada awal 2014 TNI AU akan menambah 24 pesawat F-16, dan 16 pesawat di antaranya akan ditempatkan di Lanud Roesmin Noerjadin tersebut. Dengan demikian, maka Lanud Roesmin Noerjadin akan mempunyai dua skadron tempur yang dipimpin perwira bintang satu (saat ini setingkat Kolonel). Ke-24 F-16 tersebut akan di upgrade dengan biaya US$750 juta.

Selain itu, Kasau mengatakan TNI AU kini juga sedang bekerja sama dengan Korea Selatan dalam membuat pesawat tempur generasi 4,5 (KFX). Pesawat itu diakuinya merupakan alutsista tempur di atas generasi Sukhoi buatan Rusia. Direncanakan pada tahun 2022, TNI AU akan memiliki sekitar 50 pesawat tersebut. KFX adalah project pesawat tempur canggih Korean Fighter eXperimental, dengan kemampuan anti radar.

Pada saat peresmian Lanud Roesmin Nurjadin tersebut, Kasau menilai rencana penempatan 16 pesawat F-16 di Pekanbaru pada 2014 nilainya sangat strategis. Pasalnya lokasi Pekanbaru strategis sebagai benteng pertahanan, dan jaraknya cukup dekat dengan negara tetangga Malaysia ataupun Singapura. ”Angkatan Udara harus kuat untuk menjamin harga diri bangsa di udara NKRI,” katanya.

Pengembangan Kekuatan di Kalimantan Barat
TNI AL baru-baru ini mengumumkan rencana memutakhirkan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Pontianak menjadi pangkalan utama (Lantamal) di perbatasan dan mendirikan pos-pos tambahan di sepanjang rentang batas Malaysia. Tiga markas AL sedang dibangun, termasuk markas di Teluk Batang. Pangkalan angkatan laut adalah salah satu komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) yang mendukung sistem persenjataan lainnya seperti kapal, pesawat tempur, dan marinir.

Lanal Teluk Batang akan diposisikan sebagai pendukung utama untuk keperluan administrasi dan logistik TNI-AL untuk melayani kapal, pesawat, dan personil kelautan. Pangkalan ini, sebagai pusat logistik untuk keamanan maritim di wilayah tersebut, akan menggunakan infrastrukturnya untuk memaksimalkan potensi maritim bersama organisasi AL lainnya.

Selain itu di perbatasan dengan Malaysia, Kodam XII Tanjungpura di Kalimantan Barat berencana menempatkan lebih banyak prajurit dan mendirikan pos perbatasan lebih banyak di sepanjang perbatasan sejauh 966 kilometer antara Provinsi Kalbar dan Sarawak, Malaysia. Jumlah pos perbatasan akan ditambah dari yang saat ini 33 menjadi 42. Personil TNI akan berjaga di pos-pos tersebut, yang didukung oleh pesawat pengintai tak berawak.

Konflik masalah perbatasan Indonesia dengan Malaysia merupakan yang paling sensitif. Indonesia dan Malaysia menetapkan perbatasan darat di Borneo berdasarkan kesepakatan lama antara Inggris dan Belanda. Wilayah Indonesia diwarisi dari Belanda dan Malaysia memiliki bekas wilayah Inggris. Setelah berselisih selama tahunan dengan Malaysia atas Pulau Sipadan dan Ligitan, Indonesia akhirnya kehilangan haknya atas kedua pulau itu pada tahun 2002.

Indonesia selama ini telah kehilangan wilayah seluas 1.499 hektar di Camar Bulan dan 800 meter di lepas pantai Tanjung Datu, bersamaan dengan itu sumber daya berpotensi seperti minyak bumi, timah, dan gas. Infrastruktur yang buruk di wilayah perbatasan yang berbeda dengan wilayah Malaysia menyebabkan pendudukan Kalbar lebih banyak yang bepergian ke Serawak.

Kodam XII/Tanjungpura dilengkapi satu Batalyon Altileri Medan dengan mengusung sekitar 30 meriam 155mm Caesar. Meriam 155mm Caesar adalah self-propelled howitzer bergerak, dapat diangkut dengan pesawat Hercules, yang dipasang di atas truk Unimog 6×6. Dengan pengisian proyektil otomatis, meriam 155mm ini siap menembakkan 18 munisi dalam hitungan menit. Meriam otomatis ini memiliki jarak tembak 42 km (munisi ERFB) atau 50 km untuk munisi roket. Yon Armed Caesar 155mm ini, dipersiapkan bertugas sebagai supporting Batalyon Kavaleri yang diperkuat dengan MBT Leopard 2A6.

Sementara itu Kodam VI/Mulawarman menjaga wilayah Kalimantan Timur dan Selatan. Direncanakan Kodam Mulawarman akan disuport satuan Skadron Helikopter Serbu. Kemungkinan besar, Skadron ini akan diisi dengan Helikopter AH 64 Apache. Kodam VI Mulawarman akan dilengkapi peluncur roket multi laras MLRS. Kini Kodam Mulawarman sedang membangun pangkalan MLRS di wilayah Berau Kalimantan Timur. MLRS yang akan mereka gunakan kemungkinan HIMARS dan Roket Pindad.

Rencana Penguatan Alutsista TNI AD
TNI AD mempunyai kesempatan memiliki alutsista baru yang canggih, yaitu tank serta heli serbu. Peluang pembelian helikopter serang AH-64/D Apache menjadi agak jelas setelah Menlu AS Hillary Clinton pada 20 September mengumumkan kepastiannya untuk menawarkan delapan heli ini kepada Indonesia, melalui Menlu RI Marty Natalegawa, dalam Joint Commision Meeting di Washington, AS.

Kongres AS yang semula menolak, akhirnya menyetujui, setelah pemerintahan Presiden AS Barack Obama menjelaskan bahwa dukungan persenjataan ini penting bagi hubungan kedua negara dan akan memperkuat keamanan di negara Muslim terbesar di dunia ini. ”Kesepakatan ini diharapkan bisa memperkuat persahabatan komprehensif kedua negara dan membantu memperkuat keamanan di wilayah Asia Pasifik,” ujar Menlu Hillary Clinton (Reuters).

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin, harganya diperkirakan USD 40 juta per unit. “Itu harga belum termasuk senjatanya. Kalau lengkap dipersenjatai,harganya bisa meningkat jadi USD 60 juta per unit,”katanya. Jika pemerintah hendak membeli 10 unit Apache beserta persenjataannya, maka diperkirakan keluar uang negara USD 600 juta.

Selain rencana pembelian Heli serbu Apache, TNI AD juga akan membeli Main Battle Tank (MBT) Leopard yang semula direncanakan dari Belanda. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin akhirnya menyatakan Indonesia akan membeli Main Battle Tank (MBT) Leopard langsung dari Jerman. Keputusan tersebut dilakukan menyusul proses pembelian dari Belanda dihentikan karena tidak ada kepastian dari pemerintah setempat.

Menurutnya kebijakan pembelian tank Leopard itu merupakan bagian dari modernisasi peralatan militer sesuai Rencana Strategi (Renstra) periode 2010-2014. Anggaran yang diperlukan untuk membeli peralatan militer MBT ini sebesar US$ 280 juta, dengan skema pinjaman luar negeri, yang diproses sesuai blue print Bappenas dan Kementerian Keuangan.

Perbedaan pendapat terjadi antara TNI AD sebagai pengguna dengan DPR RI, menurut DPR, pada 16 Agustus lalu menyetujui pembelian tank Leopard dengan bobot 40 ton atau tank medium. Kebutuhan TNI Angkatan Darat, yaitu tank besar berbobot 60 ton. Semestinya DPR menyadari bahwa kebutuhan MBT adalah untuk mengimbangi negara-negara tetangga seperti Malaysia yang juga memiliki MBT. (Baca artikel penulis “Arti Penting Tank Leopard bagi TNI AD” http://ramalanintelijen.net/?p=4794 )

Analisis Perkembangan Kondisi Wilayah
Pengembangan kekuatan pertahanan Indonesia jelas tidak terlepas dari perkembangan serta langkah strategis Amerika Serikat di Asia Tenggara dan Kawasan Laut China Selatan. Dukungan dan kerjasama pertahanan ini juga digencarkan AS dalam rangka refocuses perhatian ke wilayah Asia-Pasifik setelah bertahun-tahun terlibat dalam konflik yang melelahkan di Irak dan Afghanistan. (Angkasa).

Menlu AS Hillary Clinton mengakui bahwa Pemerintah AS sedang berusaha meningkatkan kerjasama militer dengan sejumlah sekutu tradisionalnya, seperti Filipina dan Australia. Hal ini dilakukan untuk menekan China agar mau menerima kesepakatan bersama untuk memecahkan konflik teritorial di Laut China Selatan.

Dalam mengantisipasi perkembangan kawasan Laut China Selatan, memang sudah sepatutnya TNI meningkatkan kemampuan pertahanan serta gelar tempurnya di kawasan Barat. Seperti istilah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Dengan memperkuat pertahanan di kawasan Barat, selain mengantisipasi kemungkinan konflik antara China dengan AS dan sekutunya, kita juga mengantisipasi dan meningkatkan bargaining position terhadap Malaysia.

Sebenarnya Malaysia bukan masalah besar bagi Indonesia, tetapi tetap merupakan duri dalam daging yang bisa menyebabkan infeksi dan rasa tidak nyaman saja. Bangsa ini hanya kalah cerdik dan berani saja sama mereka, nah kini TNI mulai menjawab dan mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di kawasan pada beberapa tahun mendatang. Bravo TNI.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : tni-au.mil.id


Sumber
Teks dan Foto: Kompasiana
(http://hankam.kompasiana.com/2012/12/04/perkuatan-gelar-tempur-tni-di-perbatasan-dengan-malaysia-513957.html)

Warga Perbatasan Dapat Alokasi Rumah dari Kemenpera

Ilustrasi
@IRNewscom | Atambua: KEMENTERIAN Perumahan Rakyat (Kemenpera) RI mengalokasikan 3.750 rumah khusus untuk masyarakat berpenghasilan rendah di Kabupaten Belu, wilayah batas antara RI-Timor Leste.

"Jumlah alokasi rumah tersebut terdiri dari 2.305 unit merupakan sisa tahun 2011 dan sisanya 1.445 unit merupakan usulan baru pada tahun 2012," kata Bupati Belu Joachim Lopez di Atambua, Kamis (06/12).

Joachim mengatakan, hal itu menjawab soal intervensi pemerintah pusat terhadap Pemerintah Kabupaten Belu untuk mengatasi pemenuhan kebutuhan akan rumah yang layak huni bagi warga di wilayah yang berbatasan dengan Timor Leste tersebut.

Ia mengakui masih banyak masyarakat yang tersebar di 24 kecamatan di kabupaten tersebut, yang belum mermiliki rumah layak huni, dan membutuhkan fasilitas bantuan perumahan tersebut.

Oleh karena itu, segala upaya termasuk melakukan pendataan secara profesional terhadap masyarakat yang masih membutuhkan bantuan rumah tersebut dilakukan sebagaimana kriteria yang diberikan pemerintah.

Selain menyiapkan tim pendata yang profesional, kata Joachim, Pemerintah Kabupaten Belu juga menyediakan lahan sebagai lokasi pembangunan perumahan bantuan untuk masyarakat berpenghasilan rendah tersebut.

Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Belu sudah menerima kucuran bantuan Rp 350 miliar dari Kementerian Perumahan Rakyat RI untuk pembangunan perumahan di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste itu.

"Jumlah itu yang terbesar dari keseluruhan bantuan yang dikucurkan pemerintah pusat oleh sejumlah kementerian yang mencapai total Rp 825 miliar," kata Joachim.

Terhadap alokasi jumlah perumahan yang diberikan tersebut, katanya, Pemerintah Kabupaten Belu telah menyediakan lahan untuk pelaksanaan pembangunan perumahan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Belu telah mengeluarkan kebijakan untuk membagi alokasi 3.750 unit rumah di Kabupaten Belu tersebut, selain untuk kepentingan masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga akan disalurkan kepada warga eks-pengungsi Timor Timur yang masih berada di daerah tersebut dan telah memilih untuk menjadi warga negara Indonesia.

Dia berharap, dengan perhatian pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat RI tersebut, bisa memberikan manfaat warga miskin dan warga eks-Timor Timur di wilayah perbatasan tersebut, untuk bisa meningkatkan derajat ekonomi dan mencapai kesejahteraannya.

Menteri Perumahan Rakyat RI Djan Faridz mengatakan alokasi kuota bantuan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah pada 2012 berjumlah 250 ribu unit yang akan disalurkan ke seluruh wilayah negara kepulauan tersebut.

"Jumlah itu merupakan alokasi kuota yang pemerintah sediakan di tahun 2012 ini dan sedang disalurkan sesuai permintaan pemerintah daerah masing-masing," kata Djan Faridz saat berkunjung ke Desa Fatulotu, Kecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan alokasi tersebut akan ditingkatkan jumlahnya pada 2013 menjadi 500 ribu unit.

Dia mengatakan rumah bantuan pemerintah kepada masyarakat berpenghasilan rendah tersebut salah satu program pemerintah untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan rumah yang layak huni, untuk selanjutnya bisa mengangkat derajat penghidupan masyarakat.

Ia berharap dukungan pemerintah daerah setempat untuk menyediakan tanah dan menetapkan lokasi pembangunan rumah murah dengan mengacu kepada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan perkembangan kabupaten ataupun kota pada 15-20 tahun ke depan. [ant] 


Sumber
Teks dan Foto: IndonesiaRayaNews.com
(http://indonesiarayanews.com/news/nusantara/12-06-2012-09-26/warga-perbatasan-dapat-alokasi-rumah-dari-kemenpera)

Takut Pengaruh Buruk Asing, Desa di Perbatasan 'Dipagari' Teknologi

Ilustrasi
Boven Digoel, Papua - Untuk menghindari pengaruh buruk yang mungkin ditimbulkan oleh negara lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bertekad untuk memperbanyak desa informasi di pelosok tanah air.

Desa informasi memang salah satu program Kominfo yang mulai dilaksanakan sejak 2009. Tercatat, sepanjang 2012 ada sekitar 120 desa terpencil yang sudah memiliki komunikasi telepon, radio dan internet.

"Dengan teknologi, masyarakat terpencil diharapkan bisa mendapatkan banyak informasi," kata Dirjen Informasi dan Keterbukaan Publik, Freddy Tulung.

Namun di luar itu desa informasi juga dibentuk sebagai pertahanan bangsa. Terutama dari informasi menyesatkan di negara tetangga yang biasanya didengar oleh masyarakat tanah air di wilayah perbatasan.

"Desa informasi juga menciptakan pertahanan sosial, ekonomi dan politik," tambah Freddy, saat meresmikan Desa Informasi di Desa Sohokanggo, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, Papua.

Seperti diketahui bahwa Kabupaten Boven Digoel merupakan wilayah perbatasan Indonesia dengan Papua New Guini. Konon, banyak intervensi sinyal dari negara tetangga yang cukup menggangu di sini. Dengan adanya desa informasi semua ancaman tersebut diharapkan bisa teratasi.

( eno / tyo ) 


Sumber
Teks: Detik
(http://inet.detik.com/read/2012/12/06/074456/2110697/328/takut-pengaruh-buruk-asing-desa-di-perbatasan-dipagari-teknologi)
Ilustrasi: Viva.co.id
(http://log.viva.co.id/news/read/333734-jadilah-penerima-informasi-yang-cerdas) 

Rumah Pintar Alambhana, Atasi Kesenjangan Pendidikan di Perbatasan Indonesia-Malaysia

ilustrassi
Pemerintah ingin menjadikan Entikong lebih berdaulat melalui pendidikan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sanggau, aparat militer setempat dan organisasi Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) bekerjasama mengoperasikan motor pintar dan mobil pintar.

Di Entikong akses informasi justru lebih mudah didapat dari Malaysia. Untuk mengimbangi ini mobil dan motor pintar berkeliling ke sekolah-sekolah di perbatasan untuk menyediakan bahan bacaan bagi anak-anak Indonesia, agar mereka lebih mengenal Presiden Indonesia dari pada Perdana Menteri Malaysia.


Sementara untuk memenuhi kebutuhan rekreasi yang edukatif Ibu-Ibu Menteri Kabinet Indonesia Bersatu juga membangun rumah pintar. Di rumah pintar ini anak-anak Entikong dapat bermain sambil belajar misalnya membaca, beranang dan aktifitas outbound, jelasnya.

Perhatian lebih dari pemerintah pusat ke wilayah perbatasan inilah yang akan menjadikan warga negara Indonesia yang tinggal di Entikong merasa berdaulat di tanah airnya sendiri.
Kepala Humas Rumah Pintar Alambhana Cendekia 1 Entikong, Ayu mengatakan, Rumah Pintar Alambhana Cendekia 1 Entikong diresmikan 13 April 2010. Rumah Pintar ini di gagas oleh SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu) yang dipimpin Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono.

“Gagasan tersebut kemudian di realisasikan oleh Komandan Korem 121/Abw, Kolonel Infanteri Nukman Kosadi beserta Persit Kartika Chandra Kirana,” tambah Ayu.
Rumah Pintar ini memiliki visi: Menjadi sumber ilmu yang bermanfaat bagi warga masyarakat dalam meningkatkan kualitas SDM yang memiliki keunggulan dalam bidang pengetahuan, ketrampilan, akhlak mulia dan cinta tanah air serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara misinya, antara lain: Mengembangkan potensi anak usia dini dengan melakukan kegiatan bermain kreatif dan edukatif, Mencerdaskan anak-anak dan warga masyarakat sebagai generasi penerus bangsa, Mengembangkan minat baca, potensi diri, dan keterampilan, Mengenalkan dan mengembangkan tekhnologi informasi.


Rumah Pintar yang terletak di Jalan Raya Lintas Malindo Entikong, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat itu dibangun di atas lahan seluas 2,7 hektar. Tanah tersebut hibah dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Pemerintah Kabupaten Sanggau.

Keberadaan rumah pintar ini sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945 yaitu Pemerintah Indonesia memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, Korem 121 Alambhana Wanawwai dan jajarannya mendapatkan tugas untuk ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pembangunan rumah pintar dan fasilitasnya.

Kepala Bidang Pendidikan Rumah Pintar Alambhana Cendekia 1 Entikong, Dwi Agustinus, yang juga Ketua Persit Ranting Koramil Entikong) mengatakan, di program rumah pintar ini ada beberapa program yang dibagi menjadi 11 sentra.


Ke-11 sentra itu meliputi: sentra perpustakaan, sentra komputer, sentra permainan anak-anak, sentra kesenian, sentra griya, sentra taman lalu lintas, sentra saint, sentra pertanian, sentra pertukangan dan beberapa sentra lainnya. Untuk menggerakkan sentra ini Korem akan bekerjasama dengan beberapa instansi terkait.

Di sentra komputer, anak-anak/pengunjung dapat menggunakan sarana tersebut untuk mengetahui atau meningkatkan keterampilan dalam mengoperasionalkan komputer maupun menggunakan jaringan internet. “Bagi anak-anak usia PAUD biasanya hanya sebagai pengenalan. Sedangkan bagi usia SD sampai masyarakat umum bisa untuk meningkatkan keterampilan mengoperasionalkan komputer,” jelas Dwi.


Yang cukup menarik di Rumah Pintar Entikong ini adalah sentra bermain anak. Sentra ini sebagai wahana bagi anak-anak untuk bermain dan belajar dibantu tutor/pembimbing yang telah ditunjuk sehingga anak-anak dapat meningkatkan kecerdasannya mulai dini. Di sentra ini, terdapat alat permainan berupa APE (alat permainan edukasi), bak mandi bola, alat-alat menggambar lengkap berupa buku gambar dan crayon, kertas lipat (origami) dan lain-lain.


Tidak kalah menariknya lagi, sentra taman lalu lintas, yang dibangun oleh PT Pertamina. Meski pembangunannya tidak sesuai dengan rencana (master plan). Sebab, sentra ini dibuat sebelum bangunan Rumah Pintar berdiri. Sentra ini lebih cenderung tempat bermain anak-anak yang terdiri dari ayunan, seluncuran, timbangan keseimbangan, dan lain-lain. (mulya)


Sumber
Teks: Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat
(http://118.98.233.175/dikmas/index.php/component/content/article/56-pembelajaran-dan-peserta-didik/1404-rumah-pintar-alambhana-atasi-kesenjangan-pendidikan-di-perbatasan-indonesia-malaysia.html)
Foto: Blog Nining Riastuti
(http://niningsriastuti.wordpress.com/2011/09/08/menjajagi-buat-gerbang-kampung-dan-rumah-pintar/)

Desa Informasi Kembali Rambah Perbatasan Indonesia

Written By smartaggregator on Saturday, December 8, 2012 | 10:01 AM

Wakil Bupati Belu (kanan) dan Dirjen Kominfo Syukri Batubara (Foto: Andina/Okezone)
BELU - Desa Informasi yang menjadi program Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sejak 2009 terus memperluas jangkauannya. Kali ini, Kemenkominfo meresmikan 28 Desa Informasi di wilayah Indonesia yang difokuskan di Desa Bakustulaman, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Untuk mewujudkan Indonesia Connected, Desa Informasi merupakan salah satu terobosan yang dilakukan Kemenkominfo, khususnya Penyelenggaraan Pos dan Informatika, sebagai solusi mengurangi kesenjangan informasi di seluruh wilayah Indonesia.

Desa Informasi ini fokus pada wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Kabupaten Belu, Atambua, merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

"Melalui Indonesia Connected, kami sudah bangun 206 Desa Informasi di Tanah Air yang merupakan wilayah berbatasan langsung dengan 8 negara, salah satunya Atambua yang berbatasan dengan Timor Leste," ujar Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Syukri Batubara, saat meresmikan Desa Informasi di Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Rabu (28/11/2012).

"Desa informasi ini untuk mengurangi kesenjangan informasi antara masyarakat kota dan desa," tambahnya.

Disambut Hangat
Wakil Bupati Belu Taolin Ludovikus, menyambut baik penerapan Desa Informasi di wilayahnya. Terlebih lagi, menurutnya, di era informasi ini, evolusi manusia terjadi dalam kurun waktu yang cepat.

"Dengan adanya Desa Informasi, kami harap penyebaran informasi menjadi lebih luas. Jangkauan informasi juga semakin didukung dengan jangkauan radio, TV, dan parabola milik perorangan. Sedangkan untuk sarana telkomunikasi yang ada di sini dikelola oleh PT. Telkomsel dan PT.Telkom," jelas Taolin.

Desa Informasi di Kabupaten Belu terdiri dari beberapa unsur yaitu Desa Dering, Desa pintar, Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK), Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK), Komunitas Informasi Masyarakat (KIM). Dalam acara peresmian, Kemenkominfo sekaligus melakukan serah terima MPLIK dengan Wakil Bupati Belu.

Untuk Belu, sarana komunikasi data terdiri dari tujuh unit PLIK yang ditempatkan di tujuh kecamatan, sedangkan 10 unit MPLIK akan ditempatkan di tujuh sekolah dan tiga unit lagi akan melakukan pelayanan secara mobile.

Peresmian Desa Informasi di Desa Bakustulaman, sekaligus meresmikan 27 Desa Informasi lain yang tersebar di wilayah NTT lainnya yaitu Kabupaten Kupang, Kabupaten Alor, serta Kep. Sangihe dan Kep. Talaud yang berada di Provinsi Sulawesi Utara.
(amr) 


Sumber
Teks dan Foto: Okezone
(http://techno.okezone.com/read/2012/11/28/54/724330/desa-informasi-kembali-rambah-perbatasan-indonesia)
 
Copyright © 2011. Perbatasan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger